Kalcerbola.com – Patrick Kluivert Timnas Indonesia kembali jadi sorotan setelah gagal membawa Garuda lolos dari fase Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pengamat menilai, tidak ada hal signifikan yang bisa dibanggakan dari kepemimpinannya di skuad merah putih, baik dari segi taktik, efektivitas serangan, maupun progres permainan.
Kritik Pedas dari Pengamat & Media Kepada Patrick Kluivert
Kekalahan beruntun dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) membuat posisi Patrick Kluivert di kursi pelatih mulai dipertanyakan.
Beberapa pengamat lokal seperti Mohamad Kusnaeni menyebut belum ada perkembangan nyata dari Timnas Indonesia di bawah arahannya.
“Permainan Indonesia tidak menunjukkan identitas jelas. Kalau dilihat dari hasil, tidak ada yang bisa dibanggakan sejauh ini,” ujarnya dikutip dari DetikSport.
Statistik pun mendukung kritik tersebut. Dalam delapan laga terakhir, Indonesia hanya mencetak lima gol dan kebobolan 15 kali, sebagian besar datang dari kesalahan elementer dan minimnya kreativitas lini depan.
Taktik Patrick Kluivert Dianggap Gagal Total
Kluivert sempat menjanjikan gaya bermain menyerang berbasis penguasaan bola. Namun, di lapangan, pendekatan itu justru membuat Garuda sering kehilangan keseimbangan.
Bahkan, dari dua laga terakhir di ronde keempat, semua gol Indonesia hanya lahir dari situasi penalti, bukan dari open play.
“Kami seharusnya bisa mencetak gol dari permainan terbuka. Kadang saya ingin memukul diri sendiri karena frustasi,” ucap Kluivert dikutip dari Reuters.
Pergantian pemain juga kerap terlambat, dan tak jarang pemain yang tampil bagus justru ditarik keluar di momen penting. Hal ini membuat keputusannya menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk fans.
Minim Capaian & Tidak Konsisten
Sejak mengambil alih kursi pelatih, Kluivert memang membawa semangat baru lewat kombinasi pemain lokal dan naturalisasi. Namun hasilnya masih jauh dari ekspektasi.
Indonesia gagal menunjukkan stabilitas permainan, sering kehilangan fokus saat unggul, dan tidak mampu menjaga momentum.
Analis sepak bola Asia Tenggara bahkan menyebut bahwa “mentalitas menyerang yang dijanjikan Kluivert belum pernah benar-benar muncul.”
